Highlights | Healing Heart | Kamis, 1 Agustus 2019

Jemaat mengalami kesembuhan dari Tuhan.

RELATIONSHIP | Ps. Yohan Albertus Hunsinger

Yesus tidak datang ke dunia untuk membawa dan memperkenalkan sebuah agama. DIA memberikan keselamatan bagi mereka yang mengenal dan percaya kepadaNYA.

Kekristenan bukan berbicara mengenai perihal agamawi. Namun jika kita menganggap kekristenan sebagai agama, seringkali mereka akan mengalami banyak salah paham mengenai hal itu. Tuhan itu rindu untuk membangun hubungan dengan kita, anak-anakNYA.

Didalam kehidupan, ujian hidup atau cobaan terjadi karena 3 hal dan ketiga hal ini tentunya atas seijin Tuhan:
1. Karena dosa – Kita sudah mengetahui bahwa yang kita lakukan berdosa, namun manusia tetap saja melakukannya.
2. Karena kutuk – Banyak dari kita yang tidak mengetahui silsilah kehidupan kita. Mungkin pada masa tertentu, leluhur kita pernah mendalami ilmu kegelapan ataupun hidup dalam kegelapan melalui dunia spiritual duniawi seperti perdukunan. Hal ini bisa jadi mengikat kehidupan kita.
3. Karena pengujian Tuhan – Tuhan menguji iman percaya setiap anak-anakNYA. Maka ketika ujian datang, DIA akan melihat apakah kita meresponi ujian hidup kita dengan iman atau dengan kekuatan kita sendiri.

Dari 3 alasan ujian diatas, kenyataannya Tuhan itu tidak pernah tertarik untuk mengangkat masalah atau ujian itu dari hidup kita. Tuhan Yesus justru tertarik dalam MEMPERKUAT kita dalam menghadapi masalah dan ujian yang sedang kita hadapi.

Mengenai hubungan itu sendiri, ada 3 bentuk hubungan kita dengan Tuhan Yesus yang perlu kita pahami.

HUBUNGAN BAPAK DAN ANAK
Yohanes 1:13 (TB)
(13) orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Salah satu bentuk hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan antara bapak dan anak. Tuhan menyatakan hal ini melalui banyak firmanNYA.

Efesus 1:5 (TB)
(15) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

Tuhan menyatakan kasihNYA sama seperti bapak yang mengasihi anak-anaknya. Seorang bapak yang bertanggung jawab. Yang membimbing, membina, menuntun, menasehati, menjaga/melindungi. Melalui hubungan bapak dan anak, Tuhan menggambarkan bentuk kasihNYA yang besar bagi kita anak-anakNYA.

Roma 8:15 (TB)
(15) Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

Roma 9:4 (TB)
(4) Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

Layaknya seorang bapak yang mengasihi anaknya dengan sepenuh hati, begitupun Tuhan yang menjadi Bapa bagi kita yang percaya kepadaNYA dengan sepenuh hati. Tentunya sebagai bapak, DIA mengetahui benar siapa kita. DIA mengenal kita jauh sebelum kita terlahir didunia. DIA merancang kita jauh sebelum kita tahu akan satu hal pun.

Banyak dari kita anak-anak Tuhan komplain kepada Tuhan. Ketika ujian terjadi kita justru “ngedumel” dan kerapkali memilih untuk memboikot Tuhan. Pahamilah ini anak-anak yang dikasihi Tuhan.

Matius 6:32 (TB)
(32) Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

DIA tahu persis apa yang dibutuhkan anak-anakNYA. DIA tahu kondisi kita, keadaan kita, pribadi kita, bahkan apa yang ada dihati kita pun Tuhan Yesus mengetahui segala sesuatu tentang setiap pribadi kita. Bapa menawarkan kehidupan yang supranatural bagi kita semua. Namun karena kita sebagai manusia terbiasa hidup dalam daging. Hal ini membuat banyak anak-anak Tuhan sulit mengalami mujizat yang supranatural.

Tuhan sebagai Bapa ingin mendidik anak-anakNYA. Lewat proses yang sedemikian rupa. Semua sengaja dirancangkan olehNYA untuk menjadikan kita kuat. Tuhan sebenarnya tidak pernah tertarik untuk mengangkat proses dari hidup setiap kita. Yang ada, DIA justru ingin memberikan kita kekuatan yang supranatural dalam menghadapi proses yang terjadi didalam kehidupan setiap kita, pribadi lepas pribadi.

Roma 8:17 (TB)
(17) Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

HUBUNGAN TUAN DENGAN HAMBA
Lukas 17:8-10 (TB)
(8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Selain Bapak dan anak, hubungan atau relationship kita juga disebut Tuan dan hamba. Ketika kita sedang melakukan tugas untuk Tuhan, itulah waktu dimana kita disebut antara Tuan dan hamba.

Sebagai hamba, kita harus mengikuti selera Tuannya. Tidak mungkin ada hamba yang ketika tuannya meminta mie goreng lalu hambanya justru menyediakan tempe rebus. Sebagai hamba, kita harus patuh pada tuannya. Sebagai hamba, kita HARUS melayani tuannya tepat sesuai selera tuannya. Ini ga bisa ditawar.

Hari-hari ini gereja Tuhan banyak yang memilih untuk menyenangkan jemaat. Mereka memasak untuk jemaat. Seleranya mengikuti selera jemaat. Takut kehilangan jemaat, maka gereja justru menyediakan sesuatu yang berselera untuk manusia. Dan hal ini menghambat pertumbuhan rohani yang sesuai dengan seleranya Tuhan.

Kita harus kembali kepada dasar yang benar. Kita ini hamba, maka kita harus mempersiapkan yang terbaik SESUAI selera Tuhan!! Ibadah itu untuk menyenangkan Tuhan. Bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Ibadah itu bukan soal kenyamanan kita. Ibadah itu untuk menyenangkan Tuhan dan bukan untuk menyenangkan hati kita masing-masing.

HUBUNGAN SAHABAT
Yohanes 15:15 (TB)
(15) Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

Peristiwa Sodom-Gomora menjadi bukti bahwa Tuhan adalah sahabat. DIA tidak akan menutupi suatu rahasia apapun kepada sahabatNYA. Kita sebagai sahabat Allah, maka rahasia-rahasia pasti dibukakan bagi kita semua. Rahasia untuk diberkati, rahasia mengenai dosa, rahasia kehidupan, rahasia pertobatan, rahasia hidup kudus. Semua rahasia Illahi terjadi bagi mereka yang dianggap sebagai sahabatNYA.

Jadilah sahabat Tuhan, jadilah pribadi yang dekat dengan Tuhan layaknya kita dekat dengan sahabat kita sehari-hari.